Drama Murahan Jelang Musda Golkar

Pewarta : Irwan Permana 

Editor : PNS


Sumedang, Metrojabaronline.com // Pasar malam politik Golkar Sumedang sudah buka lapak. Ramai, berisik, tapi sebagian lampu padam—bukan karena hujan, tapi ada yang sengaja matikan meteran.

Di tengahnya, beringin besar berdiri tegak. Dirawat Sidik Jafar lima tahun. Rimbun. Akar kuat. Batang tebal. Dan itu bikin sebagian orang gelisah.

Sidik bukan pendatang baru. Mantan pemain Persib ini paham, di politik, pelanggaran kadang lebih cepat hasilkan gol. Bedanya, kali ini serangan datang bukan tekel keras, tapi “angin”—angin yang pede bisa merobohkan beringin.

Beberapa minggu terakhir, sebuah media online rajin memuat “kritik”. Keras bunyinya, kopong isinya. Mirip gorengan dua kali beku. Pola lama. Pernah dipakai saat Sidik hendak dilantik jadi Ketua DPRD. Aktor sama. Sutradara sama. Naskahnya basi.

Kenapa Sidik dibidik? Karena prestasinya silau. Kursi Golkar naik dari 7 ke 10. Suara rakyat melesat dari 83 ribu ke 143 ribu. Penghargaan nasional diraih. Untuk yang terbiasa tidur siang di bawah beringin, ini seperti matahari tepat di ubun-ubun—terlalu panas untuk kenyamanan mereka.

Maka dipakai jurus klasik : injak akar lawan, sebar rumor, lalu pura-pura peduli pohon. Gosip murahan. Pupuk kadaluarsa. Bau menyengat, hasil nihil.

Mereka lupa, Sumedang bukan tanah kosong. Publik di sini tahu membedakan kritik tulus dari intrik dapur politik.

Musda seharusnya adu visi. Bukan lomba lempar kapak. Menebang beringin demi tenda sendiri, sama saja menebang masa depan partai.

Singkatnya, ini bukan soal siapa yang duduk di kursi. Ini soal siapa yang paling malas bangun, tapi tetap ingin tidur siang di bawah beringin.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siloka Disdukcapil Kab.Bogor, Cara Mudah Daftar dan Cetak E-KTP

Laskar Merah Putih Perjuangan ( LMPP ) Gelar Sosialisasi dan Konsolidasi Pengurus MADA Jawa Barat

Pembangunan Renovasi proyek di RSUD Sumedang Ricuh